Pembelian Tiket Wisata Di Transfer Ke Rekening Miliknya, Ini Penjelasan Kadis Pariwisata Manggarai Barat

Kadis Pariwisata itu tidak menampik adanya uang yang ditransfer ke rekening BCA miliknya untuk beli tiket di luar kawasan TNK. 

Kabarflores.co. – Pembelian tiket snorkeling di luar area kawasan TNK (Taman Nasional Komodo) menjadi perbincangan serius di kalangan pelaku wisata. Bagaimana tidak, pembayaran tiket (Retribusi Daerah) di transfer ke rekening pribadi atas nama Stefanus Jemsifori yang merupakan kepala dinas pariwisata Kab. Manggarai Barat.

Kejadian tersebut disampaikan oleh Bondan pemandu wisata (Toure Guide) kepada media, kamis (11/12/2025).

“Beberapa waktu lalu (6/11) kami melakukan perjalanan wisata ke TNK (Taman Nasional Komodo.) Tidak hanya ke TNK, kami juga pergi ke Pulau Kelor untuk snorkeling. Setibanya disana, kami diminta untuk bayar retribusi daerah kemudian saya minta karcis/tiket namun petugas bilang sudah tidak ada. Saya diberikan formulir oleh petugas untuk mengisi, dimana lembar ke dua pada formulir tersebut tercantum nomor rekening yang akan kita transfer karena saya tidak ada uang cash,” jelasnya.

Bondan merasa ada yang aneh dalam pembayaran tiket tersebut.

Baca Juga:  Permainan Mafia Tanah 6,2 H Di Muara Nggoer, Belasan Ahli Waris Jadi Korban

“Saya kaget, begitu saya regis nomor rekening tersebut muncul lah nama Stefanus Jemsifori. Saya tunjukan bukti transfer tersebut ke petugas tanpa ada nota (Karcis/tiket) pembelian. Selanjutnya kami beraktivitas,” bebernya.

Tanggapan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan “Stefanus Jmesifori”

Kepada tim redaksi Kabarflores.co. pada jumat (12/12), Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Manggarai Barat itu membeberkan peristiwa tersebut berawal dari kegiatan pengawasan atau sidak.

“Sebetulnya kalau mau jujur, ini bentuk keseriusan kami dalam mendorong peningkatan pendapatan daerah. Dari awal kami menempatkan petugas/juru pungut kami di kantor KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan). Kenapa kami tempatkan disana? Karena clearance sebelum agen melakukan aktivitas perjalanan wisata mesti harus ada surat izin berlayar yang dikeluarkan KSOP. Maka dari itu, kami berharap supaya sebelum surat izin ini keluar, mereka harus bantu kita untuk jual tiket kita punya. Apa tujuannya? supaya tidak hanya tiket mereka (KSOP) saja yang dibeli, tiket kita juga harus dibeli! Karena kita tidak dapat apa – apa dari kawasan TNK, kita hanya bisa pungut diuar kawasan tersebut,” jelasnya.

Baca Juga:  Pelunasan Di Persulit, Nasabah Sebut Bank NTT "Rentenir Berbadan Hukum"

Kadis yang akrab disapa Stefan itu mengaku heran karena setelah dievaluasi, presentasi kenaikan penerimaan retribusi daerah tidak meningkat sementara kunjungan wisatawan meningkat.

  • “Suatu waktu kami mengundang semua stakeholder termasuk KSOP untuk rapat bersama yang digelar di kantor dinas untuk mengevaluasi kondisi tersebut. Kami bersepakat untuk melakukan sidak ke lapangan. Namun pada saat turun ke lapangam KSOP tidak mau ikut. Dalam dua hari kami melakukan sidak, kami tilang ditempat semua mereka yang beraktivitas di luar kawasan TNK, tepatnya di Pulau Kelor. Kami berhasil kumpul uang hasil sidak sebesar 56 juta. Yang bawa uang cash langsung bayar ditempat karena kami bawa memang tiket kesana. Sementara agen yang tidak ada uang cash kami mengambil kebijakan untuk ditransfer ke rekening saya.
Baca Juga:  Sengketa Tanah Nggoer, Utusan Ahli Waris Akui Itu Tanah Milik Bersama, "Kami 18 Orang Rata - Rata Sudah Menerima Uang Dari Suhardi"

Praktik Nakal Agen Travel

Sidak setelah itu kami temukan sebuah kasus, rupanya agen – agen ini sudah terima uang dari tamu untuk beli tiket ke luar kawasan TNK.

“Waktu teman – teman agent ini jual tiket ternyata sudah satu paket dengan wisata snorkeling namun tidak mau membayar tiketnya di KSOP.  Jadi, banyak agen – agen yang nakal juga.” Ujarnya.

Kadis Pariwisata itu tidak menampik adanya uang yang ditransfer ke rekening BCA miliknya untuk beli tiket di luar kawasan TNK.

“Jadi, tidak hanya 600 rbu yang ditransfer, lebih dari itu. Total selama 3 hari kami sidak itu ada sekitar 3 jutaan yang ditransfer ke saya. Uang tersebut juga sudah kami laporkan sebagai PAD,” imbuhnya.

Penulis: Lorens LogamEditor: Tim Redaksi